“Terkadang dalam beberapa
pilihan, maka akan terdapat sebuah konsekuensi besar untuk memilihnya. Hal ini
adalah wajar dan sulit untuk terpisahkan”.
Dan mungkin ini adalah sebuah
kondisi yang sedang saya hadapi saat ini. Dulu memang benar sekali bahwa saya
ingin memiliki cita-cita berpendidikan tinggi, mungkin hingga ke negeri
seberang. Dorongan terasa begitu kuat demi tetap terus memili semangat untuk
mengejarnya. Tak lain juga mungkin untuk memenuhi ego diri yang begitu
melampaui batas normal.
Namun sejalan dengan asam manis
perjalanan hidup. Fikiran ini juga melahirkan sebuah pilihan lain. Bahwa
sesungguhnya saya adalah perempuan, yang mungkin seyogyanya lebih memilih untuk
cepat berkeluarga, tanpa mengenyampingkan pendidikan. Disini saya memiliki
sebuah alas an fundamental bahwa perempuan akan jauh lebih aman untuk hidup di
Negara sendiri. Dan pendidikan diluar negeri lebih cocok untuk kaum lelaki. Dan
ini bukan berarti bahwa saya masih menganut aliran sebelum masa cut nyak dien
bahwa pendidikan hanya untuk kaum lelaki. Sekali lagi bukan alasan demikian.
Pemaparan alasan tersebut bukan
berarti mematahkan seluruh keinginan saya. Saya masih memiliki beberapa porsi
untuk tetap ingin melanjutkan pendidikan di Luar. Yakni dengan pilihan bahwa
saya sudah memiliki pasangan hidup, saat saya mengenyam pndidikan disana dan
bersama hidup disana. Hal ini akan lebih aman untuk kehidupan saya sehari-hari
dan juga pandangan orang awam. Alas an lain adalah agar saya tidak menunda
pernikahan hingga umur yang lebih banyak.
Jika memang pilihan yang kedua
ini tidak saya capai, saya masih memiliki keinginan lain bahwa saya
menginginkan seorang pasangan hidup yang lulusan luar negeri. Tak lain adalah
karena saya ingin sebuah cerita tentang gambaran nyata akan kehidupan disana.
Entahlah, mungkin pembaca
sekalian mungkin berfikir kenapa saya terlalu mengagungkan akan pendidikan
diluar. Padahal sejatinya pendidikan di dalam negeri juga tak jauh kalah. Ya
mungkin salah satu alasan fundamental adalah karena saya berasal dari DESA. Saya ingin membuktikan bahwa
pendidikan desa juga tidak kalah dengan pendidikan di kota yang menanamkan
sebuah karakter bahwa mimpi itu bisa dikejar, mimpi itu bisa diraih, dan semua
orang tanpa terkecuali memiliki kesempatan yang sama, dan yang menentukan
hanyalah bagaimana karakter dari orang tersebut, sehingga ia dapat meraihnya.
Namun ketika memang takdir
dariNya memberikan pilihan kepada saya untuk tetap stay di Negeri ini, maka
kesempatan terakhir adalah saya akan mendidik adik saya yang Laki-laki untuk
bisa menyalurkan cita-cita saya nanti. Anak cowo sangat berhak dan mendekati
wajib untuk melanjutkan pendidikannya di negeri Luar. Itu objektif pendapat
saya.
Dan untuk perkara “Pasangan
Hidup”, itu bukanlah mutlak menjadi sebuah persyaratan, karena ini semua
hanyalah sebuah keinginan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar