Senin, Desember 10, 2012

Aku Vs Cita-Cita


“Terkadang dalam beberapa pilihan, maka akan terdapat sebuah konsekuensi besar untuk memilihnya. Hal ini adalah wajar dan sulit untuk terpisahkan”.

Dan mungkin ini adalah sebuah kondisi yang sedang saya hadapi saat ini. Dulu memang benar sekali bahwa saya ingin memiliki cita-cita berpendidikan tinggi, mungkin hingga ke negeri seberang. Dorongan terasa begitu kuat demi tetap terus memili semangat untuk mengejarnya. Tak lain juga mungkin untuk memenuhi ego diri yang begitu melampaui batas normal.

Namun sejalan dengan asam manis perjalanan hidup. Fikiran ini juga melahirkan sebuah pilihan lain. Bahwa sesungguhnya saya adalah perempuan, yang mungkin seyogyanya lebih memilih untuk cepat berkeluarga, tanpa mengenyampingkan pendidikan. Disini saya memiliki sebuah alas an fundamental bahwa perempuan akan jauh lebih aman untuk hidup di Negara sendiri. Dan pendidikan diluar negeri lebih cocok untuk kaum lelaki. Dan ini bukan berarti bahwa saya masih menganut aliran sebelum masa cut nyak dien bahwa pendidikan hanya untuk kaum lelaki. Sekali lagi bukan alasan demikian.

Pemaparan alasan tersebut bukan berarti mematahkan seluruh keinginan saya. Saya masih memiliki beberapa porsi untuk tetap ingin melanjutkan pendidikan di Luar. Yakni dengan pilihan bahwa saya sudah memiliki pasangan hidup, saat saya mengenyam pndidikan disana dan bersama hidup disana. Hal ini akan lebih aman untuk kehidupan saya sehari-hari dan juga pandangan orang awam. Alas an lain adalah agar saya tidak menunda pernikahan hingga umur yang lebih banyak.

Jika memang pilihan yang kedua ini tidak saya capai, saya masih memiliki keinginan lain bahwa saya menginginkan seorang pasangan hidup yang lulusan luar negeri. Tak lain adalah karena saya ingin sebuah cerita tentang gambaran nyata akan kehidupan disana.

Entahlah, mungkin pembaca sekalian mungkin berfikir kenapa saya terlalu mengagungkan akan pendidikan diluar. Padahal sejatinya pendidikan di dalam negeri juga tak jauh kalah. Ya mungkin salah satu alasan fundamental adalah karena saya berasal dari DESA. Saya ingin membuktikan bahwa pendidikan desa juga tidak kalah dengan pendidikan di kota yang menanamkan sebuah karakter bahwa mimpi itu bisa dikejar, mimpi itu bisa diraih, dan semua orang tanpa terkecuali memiliki kesempatan yang sama, dan yang menentukan hanyalah bagaimana karakter dari orang tersebut, sehingga ia dapat meraihnya.

Namun ketika memang takdir dariNya memberikan pilihan kepada saya untuk tetap stay di Negeri ini, maka kesempatan terakhir adalah saya akan mendidik adik saya yang Laki-laki untuk bisa menyalurkan cita-cita saya nanti. Anak cowo sangat berhak dan mendekati wajib untuk melanjutkan pendidikannya di negeri Luar. Itu objektif pendapat saya.


Dan untuk perkara “Pasangan Hidup”, itu bukanlah mutlak menjadi sebuah persyaratan, karena ini semua hanyalah sebuah keinginan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogroll