Senin, Juli 25, 2011

ngaco


Hari ini,
Ku dengarkan lagu-lagu yang tak jauh berbeda dengan apa yang aku rasakan terhadapmu.
Engkaulah bintang dihatiku yang selalu menyinari hari-hari ku..
Ku mencintaimu dengan segenap jiwa ini.

Cinta ini, tak perlu engkau ragukan
Memang mungkin saat ini, sedikit noda menghantam tulusnya hatiku kepadamu,
Tapi semoga ini hanya sesaat, dan akan hilang, melebur tak lama lagi

Namamu, selalu terngiang di fikiran ini
Tak sedikitpun luntur dengan segala fikiran-fikiran yang lain

Sekarang mungkin jarak kita terbentang lebih dari 1000 km, karena engkau sedang berada di pulau sebrang untuk membawa nama baik almamater kita
Semoga engkau sukses dengan citamu
Dan aku pun sukses dengan tanggungjawabku disini untuk penyeleseaian studi
Kelak beberapa tahun lagi, kita kan bersama
Mengikrarkan janji di hadapan para malaikat pencatat amal untuk bersama menjalani roda kehidupan ini, dalam jalan ridhonya.

Semoga cinta yang ada ditempatkan jalan yang benar. Amiiiiiiiiiiiennnn



diHari raya Mingguan Islam, 11.44 am

Hadiah untukMu (Bapak Edi S)



Secuil kisah dari desa Madukoro, Banjarnegara
Ini fakta, tanpa unsur dibuat-buat sebagai hadiah cerita untuk Pak Edi Suswono Sang Maestro Salak Banjarnegara.
Hidup dimasa tua kebanyakan orang dihabiskan untuk beristirahat menikmati keindahan alam sang kholik, memetik cerih payah semasa hidupnya, dan bermain bersama dengan anak cucu. Namun hal ini tidak dihadapi oleh sang kakek Edi. Beliau yang lahir pada tahun 1966 atau terhitung sejak ditulisnya cerita ini pada juni 2011 ( alias 55 tahun), beliau masih hidup dengan semangat gaya anak muda yang suka tantangan dan tak mudah menyerah, jiwa social petaninya telah mendarah daging dalam dirinya.
Bisalah anda sebagai pembaca untuk menyimak sedikit cerita saya selepas berbincang-bincang selama 3 jam non stop kediaman beliau (namun kini saya tak akan bercerita tentang sejarah salak):
Masa muda yang beliau jalani adalah sangat unik dan patut menjadi contoh untuk para generasi sekarang. Diawali dengan cintanya didunia pertanian, beliau pernah mencoba beberapa bisini dan ratusan juta pernah beliau habiskan untuk memenuhi hasrat suka tantangannya. Pernah beliau berkunjung ke kabupaten Batang (dekat dengan pati, Jawa tengah) untuk studi mengenai beternak lebah. Dari hasil sharing dari pihak wiraswasta lebah di batang beliau akhirnya membawa pulang 1 mobil lebah yang menghabiskan uang kurang lebih 100 juta. Ditengah perjalanan, beliau dihadang oleh polisi karena tercurigai membawa barang yang aneh. Mobil yang ditumpanginya pun berhenti dan beliau keluar dari mobilnya, dengan santai baliau menjawab pertanyaan dari Polisi dan polisipun bersiap untuk menyita STNK dari beliau, namun tak disangka 1 gundukan lebah yang terdapat di mobil keluar dan menyerang polisi, secara kaget pun polisi langsung beranjak pergi dan mempersilahkan beliau untuk melanjutkan perjalanan. (Hahahha……. Ketawa geli saya mendengar cerita ini, dan punya sebuah pelajaran nakal, kalo bepergian mending bawa lebah saja kali yah….ayayyayaa, ide cemerlang)
Sampai dirumah akhirnya beliau setiap hari merawat lebah, dan disekeliling rumahnya beliau pasang kandang lebah dengan harapan mendapatkan madu yang banyak dan bisa dijual dengan harga yang tinggi. Namun sialnya segala rencana bisnisnya tidak berjalan mulus, beliau mendapat kerugian karena hasil panen madu lebah tidak banyak dan dengan hati yang tidak sabar dalam merawatnya akhirnya beliau menyerahkan lebah-lebah tersebut ke Perhutani. Pihak perhutani pun menerima, dan merawat lebah tersebut di daerah dataran tinggi yang jarang penghuninya, namun tetap diawasi. Dan lebih lucunya tiba-tiba angin puting beliung menyerang kandang-kandang, dan menghabis luluhlantahkan seluruh kandang lebah….yahhh akhirnya tak tersisa sedikitpun dari kandang lebah dan lebahnya pun entah terbang kemana.
Selanjutnya beliau menceritakan tentang pengalaman lain di dunia petaninya, beliau pernah bertani melon, cabe dll. Namun yang paling intens diceritakan adalah saat menanam cabe. Entah dari mana ide ini muncul dengan jiwa tantangannyanya yang tak pernah luntur beliau mencoba menanam cabe rawit jenis cengis yang terkenal pedas. Untuk mewujudkan itu, beliau harus mengubah seluruh struktur tanah di sawahnya, dan membuat susunan polibag yang diisi dengan bibit cabe. Secara perhitungan, maka hasil akan menunjukan nilai panen yang besar dan keuntungan semakin mendekat. Namun pada saat panen, analisis financial menunukan perhitunga yang meleset. Harga cabe yang rendah pada saat dilakukan panen, habis oleh biaya tenaga kerja saat pemetikan. Yahhhh….hati marah mencuat dalam dadanya, sehingga dalam waktu itu juga beliau menghancurkan seluruh lahan tanaman tanpa tersisa sedikitpun, padahal sisa panen yang belum dipetik mencapai 250 kg. Andaikata beliau bersabar sedikit, maka akan hasil panen akan mencapai Rp. 10.000 kg per kilo dan beliau akan mendapat untung dari 250 kg cabe yang tersisia. Yahhh,nasi sudah menjadi bubur kata beliau…mau apalagi>>>
                Dari sekian banyaknya pengalaman, hal yang paling merugi banyak adalah tentang bisnis salaknya yang hingga mencapai nominal ratusan juta rupiah. Baru-baru ini beliau mencoba mengirimkan salak ke daerah sumatera utara, yakni lubuk linggau dan sekitarnya. Karena beiau tidak mempertimbangkan metode distribusi ke daerah yang jauh, yakni memerlukan perjalanan 2 hari dua malam, beliau mengirimkan 3 ton salak ke medan. Sesampainya disana hanya 250 kg yang masih utuh,namun yang lain telah membusuk dan tidak layak untuk dikonsumsi. Apabila dihitung dengan nominal uang…berapa ratus juta yang melayang dan harus beliau tanggung>>>> pertanyaan yang tidak usah dijawab namun perlu direnungi. Akhirnya sang pendamping hidup alias si Ibu agak sedih dengan musibah ini. Akhirnya beliau membawa sang istri ke daerah bencana merapi di Jogja,,, “silahkan Bu..lihat penduduk di sekitar sini, harta mereka telah luluh lantah, cobaan yang Alloh berikan ke kita tak sebanding dengn hancurnya desa mereka yang kini menjadi lautan padang pasir…” . Sebuah pelajaran hidup yang sangat menyentuh hati dari hasil pemikiran beliau terhadap pendengar seperti saya ini.Rasa syukur yang beliau patut dan sangat perlu dilestarikan dihati para pemuda.
                Kembali beliau cerita dalam beberapa decade ke belakang. Saat usia masih umur 40 tahunan, beliau mendapat tawaran menarik dari dinas pertanian daerah Banjarnegara untuk menjadi ketua di daerah terpencil sana, membuat daerah pertanian dengan system tersering. Dukungan penuh diberikan oleh pemerintah demi perlombaan tingakat propinsi. Namun beliau merasa risih dengan sebuah dukungan, beliau lebih senang dengan sebuah tantangan. Disana beliau mengajari para petani padi yang memiliki berbagai watak yang berbeda, beliau sendirian dengan visi dan pemikiranyya, dengan sabar beliau mengedukais masyarakat secara setahap dan dengan hamtan yang muncul dari beberapa warga. Dalam hati beliau, hasil pasti akan mengikuti proses koq….alhasil,,setelah beberapa kali penilaian, akhirnya daerah tersebut keluar sebagi juara terasering nomor 1 di Indonesia. Dan gapoktan didaerah tersebut masuk keranah televise Indonesia dan berhasl melambungkan nama Beliau. Selepas angin berita mulai berlalu, pemerintah sudah tidak peduli dengan sebuah jura, beliau mulai tersingkir dan kembali ke daerah asal sebagai orang biasa.
Ada sebuah cerita menarik dari Beliau. Beliau pernah diundang oleh TVRI di semarang untuk siaran petani. Beliau disuruh untuk menggunakan pakaian petani kesawah. Secara tegas beliau menolak, “ saya nggak mau pakai baju seperti itu. Sedih saya melihat petani dengan pakaian seperti itu masuk ke siaran televise. Seakan-akan member image bahwa petani itu jorok, tida bersih, mskin…lalu apa pandangan para penonton, pasti anak bangsa tidak mau menjadi petani, dan akan jadi apa bangsa ini”,kata beliau pada waktu itu. Saat saya mendengar cerita itu, terenyuh hati ini akan ketegasan beliau dan memang benar saat sekrang mana ada sih anak bangsa yang mau jadi petani… tapi dalam hati pribadi sih, saya ingin kayaknya deh menjadi petani tulen, tapi dengan kebun yang luas dan hasil panen yang kontinu karena melihat bergesernya zaman sekarang. Menyukai back to nature……memang perdaban selalu berubah.
                Kini beliau mempunyai rencana untuk mendirikan kembali sebuah asosiasi para petani. Keinginan hati beliau diwarkan kepada saya selaku mahasiswa yang masih muda dan memiliki image tersendiri dimata masyarakat untuk membantu mewujudkan keinginannya. Sebenarnya sih dalam hati saya takut pak menerima tawaran seperti itu, tapi ya bagaimana lagi selagi dimulai dengan sebuah niatan tulus pasti aka nada jalan dan selalu mendapat ridhonya. Semoga Hati-hati sang pembaca akan ikut mendoakan saya, teman partner Praktek Lapang saya, dan Beliau sang inisiator ide demi sebuah peradaban yang lebih baik.


Sang Pahlawan dari Banjarnegara






Sebuah Kisah Sejarah Salak Banjarnegara
Siang hari yang panas,tepatnya jam 12.45 motor yang saya tumpangi dengan teman saya menuju sebuah rumah di bagian atas Madukoro. Disana tinggal pasangan kakek nenek yang sudah memiliki cucu berwisuda (sudah cukup tua kan…). Dialah kakek Edi dengan istrinya.
Kita memang belum kenal, tapi kek Edi dengan ramah menyambut kami, muka berseri dengan senyuman indah daari lesung pipinya membuat senang untuk bertamu buat kami. Itulah sapaan terindah untuk seorang tamu…
Diawali dengan niatan datangnya saya dan teman saya ke desa Banjarnegara yakni mempelajari pasca panen buah Salak, beliau justru langsung bercerita panjang tentang sejarah salak di Banjarnegara.
Jadi Gini ringkas ceritanya….
Sejarah salak di Banjarnegara dimulai dengan tanaman lokal salak asli Banjarnegara dengan karakteristik buah yang memiliki rasa agak kecut, fisik tidak terlalu bagus apabila dibandingkan dengan salak saat ini. Penanaman salak local dimuali pada sekitar tahun 1974.
Hingga akhirnya sekitar tahun 1988, ada seorang pemuda daerah yang memiliki jiwa untuk terus berkembang dengan visi pertanian dihatinya. Memang pada awal idenya muncul semenjak beliau mengikuti Expo produk Pertanian Jawa Tengah di Hotel Borobudur, Magelang. Disana beliau bertemu dengan seorang dosen dari Universitas ternama di Yogyakarta. Olehnya Beliau diajak untuk berkunjung ke sentra Salak, Sleman. Beliau diajak untuk bertemu dengan Kepala desa setempat untuk melihat-lihat perkebunan salak dan produk Salak, dan pada saat itu beliau belum terinspirasi sama sekali dengan ide salak pondoh.
Selepas kepulangan dari Expo pertanian, beliau kembali ke desanya dan lebih sering mendapat kunjungan dari beberapa pihak terkait pembibitan salak Banjarnegara, mulai dari kalangan pemerintah, akademisi ataupun warga setempat. Melihat fenomena yang demikian, Edi memiliki perasaaan gundah,kalo keadaan terus demikian apa jadinya….akhirnya beliau mencoba mengajak 1 kelompok tani di sekitar rumahnya untuk berkunjung ke daerah Sleman, studi mengenai penanaman, pembibitan serta berbagai hal tentang salak pondoh, Sleman. Kepulangan dari sana beliau membawa 100 batang pohn salak untuk ditanam di sekitar desanya. Berawal dari sinilah salak pondok di tanam di Banjarnegara.
Tak semudah yang dibayangkan untuk mulai merealisasikan rencana beliau, karena beliau harus mendapat tekanan dari berbagai pihak terutama dari pemerintah, dalam hal ini bupati Banjarnegara. Namun dengan gigihnya beliau bisa mengganti salak local dengan salak pondoh di daerah ini sejalannya dengan waktu. Faktor utama yang menyeabbkan yakni hasil panen salak pondoh lebih diterima oleh pasar karena rasanya yang lebih manis.


Madukoro, Banjarnegara @ 7.10 pm
By.  Nurul   
 

Blogroll