Secuil kisah
dari desa Madukoro, Banjarnegara
Ini fakta, tanpa unsur dibuat-buat sebagai hadiah cerita untuk Pak
Edi Suswono Sang Maestro Salak Banjarnegara.
Hidup dimasa tua
kebanyakan orang dihabiskan untuk beristirahat menikmati keindahan alam sang kholik,
memetik cerih payah semasa hidupnya, dan bermain bersama dengan anak cucu.
Namun hal ini tidak dihadapi oleh sang kakek Edi. Beliau yang lahir pada tahun
1966 atau terhitung sejak ditulisnya cerita ini pada juni 2011 ( alias 55
tahun), beliau masih hidup dengan semangat gaya anak muda yang suka tantangan
dan tak mudah menyerah, jiwa social petaninya telah mendarah daging dalam
dirinya.
Bisalah anda
sebagai pembaca untuk menyimak sedikit cerita saya selepas berbincang-bincang
selama 3 jam non stop kediaman beliau (namun kini saya tak akan bercerita
tentang sejarah salak):
Masa muda yang beliau
jalani adalah sangat unik dan patut menjadi contoh untuk para generasi
sekarang. Diawali dengan cintanya didunia pertanian, beliau pernah mencoba
beberapa bisini dan ratusan juta pernah beliau habiskan untuk memenuhi hasrat
suka tantangannya. Pernah beliau berkunjung ke kabupaten Batang (dekat dengan
pati, Jawa tengah) untuk studi mengenai beternak lebah. Dari hasil sharing dari
pihak wiraswasta lebah di batang beliau akhirnya membawa pulang 1 mobil lebah
yang menghabiskan uang kurang lebih 100 juta. Ditengah perjalanan, beliau
dihadang oleh polisi karena tercurigai membawa barang yang aneh. Mobil yang
ditumpanginya pun berhenti dan beliau keluar dari mobilnya, dengan santai
baliau menjawab pertanyaan dari Polisi dan polisipun bersiap untuk menyita STNK
dari beliau, namun tak disangka 1 gundukan lebah yang terdapat di mobil keluar
dan menyerang polisi, secara kaget pun polisi langsung beranjak pergi dan
mempersilahkan beliau untuk melanjutkan perjalanan. (Hahahha……. Ketawa geli
saya mendengar cerita ini, dan punya sebuah pelajaran nakal, kalo bepergian
mending bawa lebah saja kali yah….ayayyayaa, ide cemerlang)
Sampai dirumah akhirnya beliau setiap hari merawat
lebah, dan disekeliling rumahnya beliau pasang kandang lebah dengan harapan
mendapatkan madu yang banyak dan bisa dijual dengan harga yang tinggi. Namun
sialnya segala rencana bisnisnya tidak berjalan mulus, beliau mendapat kerugian
karena hasil panen madu lebah tidak banyak dan dengan hati yang tidak sabar
dalam merawatnya akhirnya beliau menyerahkan lebah-lebah tersebut ke Perhutani.
Pihak perhutani pun menerima, dan merawat lebah tersebut di daerah dataran
tinggi yang jarang penghuninya, namun tetap diawasi. Dan lebih lucunya
tiba-tiba angin puting beliung menyerang kandang-kandang, dan menghabis
luluhlantahkan seluruh kandang lebah….yahhh akhirnya tak tersisa sedikitpun
dari kandang lebah dan lebahnya pun entah terbang kemana.
Selanjutnya beliau
menceritakan tentang pengalaman lain di dunia petaninya, beliau pernah bertani
melon, cabe dll. Namun yang paling intens diceritakan adalah saat menanam cabe.
Entah dari mana ide ini muncul dengan jiwa tantangannyanya yang tak pernah
luntur beliau mencoba menanam cabe rawit jenis cengis yang terkenal pedas.
Untuk mewujudkan itu, beliau harus mengubah seluruh struktur tanah di sawahnya,
dan membuat susunan polibag yang diisi dengan bibit cabe. Secara perhitungan,
maka hasil akan menunjukan nilai panen yang besar dan keuntungan semakin
mendekat. Namun pada saat panen, analisis financial menunukan perhitunga yang
meleset. Harga cabe yang rendah pada saat dilakukan panen, habis oleh biaya
tenaga kerja saat pemetikan. Yahhhh….hati marah mencuat dalam dadanya, sehingga
dalam waktu itu juga beliau menghancurkan seluruh lahan tanaman tanpa tersisa
sedikitpun, padahal sisa panen yang belum dipetik mencapai 250 kg. Andaikata
beliau bersabar sedikit, maka akan hasil panen akan mencapai Rp. 10.000 kg per
kilo dan beliau akan mendapat untung dari 250 kg cabe yang tersisia. Yahhh,nasi
sudah menjadi bubur kata beliau…mau apalagi>>>
Dari sekian banyaknya pengalaman,
hal yang paling merugi banyak adalah tentang bisnis salaknya yang hingga
mencapai nominal ratusan juta rupiah. Baru-baru ini beliau mencoba mengirimkan
salak ke daerah sumatera utara, yakni lubuk linggau dan sekitarnya. Karena
beiau tidak mempertimbangkan metode distribusi ke daerah yang jauh, yakni
memerlukan perjalanan 2 hari dua malam, beliau mengirimkan 3 ton salak ke medan.
Sesampainya disana hanya 250 kg yang masih utuh,namun yang lain telah membusuk
dan tidak layak untuk dikonsumsi. Apabila dihitung dengan nominal uang…berapa
ratus juta yang melayang dan harus beliau tanggung>>>> pertanyaan
yang tidak usah dijawab namun perlu direnungi. Akhirnya sang pendamping hidup
alias si Ibu agak sedih dengan musibah ini. Akhirnya beliau membawa sang istri
ke daerah bencana merapi di Jogja,,, “silahkan Bu..lihat penduduk di sekitar
sini, harta mereka telah luluh lantah, cobaan yang Alloh berikan ke kita tak
sebanding dengn hancurnya desa mereka yang kini menjadi lautan padang pasir…” .
Sebuah pelajaran hidup yang sangat menyentuh hati dari hasil pemikiran beliau
terhadap pendengar seperti saya ini.Rasa syukur yang beliau patut dan sangat
perlu dilestarikan dihati para pemuda.
Kembali
beliau cerita dalam beberapa decade ke belakang. Saat usia masih umur 40
tahunan, beliau mendapat tawaran menarik dari dinas pertanian daerah
Banjarnegara untuk menjadi ketua di daerah terpencil sana, membuat daerah
pertanian dengan system tersering. Dukungan penuh diberikan oleh pemerintah
demi perlombaan tingakat propinsi. Namun beliau merasa risih dengan sebuah
dukungan, beliau lebih senang dengan sebuah tantangan. Disana beliau mengajari
para petani padi yang memiliki berbagai watak yang berbeda, beliau sendirian
dengan visi dan pemikiranyya, dengan sabar beliau mengedukais masyarakat secara
setahap dan dengan hamtan yang muncul dari beberapa warga. Dalam hati beliau,
hasil pasti akan mengikuti proses koq….alhasil,,setelah beberapa kali
penilaian, akhirnya daerah tersebut keluar sebagi juara terasering nomor 1 di
Indonesia. Dan gapoktan didaerah tersebut masuk keranah televise Indonesia dan
berhasl melambungkan nama Beliau. Selepas angin berita mulai berlalu,
pemerintah sudah tidak peduli dengan sebuah jura, beliau mulai tersingkir dan
kembali ke daerah asal sebagai orang biasa.
Ada sebuah cerita menarik dari Beliau. Beliau pernah
diundang oleh TVRI di semarang untuk siaran petani. Beliau disuruh untuk
menggunakan pakaian petani kesawah. Secara tegas beliau menolak, “ saya nggak
mau pakai baju seperti itu. Sedih saya melihat petani dengan pakaian seperti
itu masuk ke siaran televise. Seakan-akan member image bahwa petani itu jorok,
tida bersih, mskin…lalu apa pandangan para penonton, pasti anak bangsa tidak
mau menjadi petani, dan akan jadi apa bangsa ini”,kata beliau pada waktu itu.
Saat saya mendengar cerita itu, terenyuh hati ini akan ketegasan beliau dan
memang benar saat sekrang mana ada sih anak bangsa yang mau jadi petani… tapi
dalam hati pribadi sih, saya ingin kayaknya deh menjadi petani tulen, tapi
dengan kebun yang luas dan hasil panen yang kontinu karena melihat bergesernya
zaman sekarang. Menyukai back to nature……memang perdaban selalu berubah.
Kini
beliau mempunyai rencana untuk mendirikan kembali sebuah asosiasi para petani.
Keinginan hati beliau diwarkan kepada saya selaku mahasiswa yang masih muda dan
memiliki image tersendiri dimata masyarakat untuk membantu mewujudkan
keinginannya. Sebenarnya sih dalam hati saya takut pak menerima tawaran seperti
itu, tapi ya bagaimana lagi selagi dimulai dengan sebuah niatan tulus pasti aka
nada jalan dan selalu mendapat ridhonya. Semoga Hati-hati sang pembaca akan
ikut mendoakan saya, teman partner Praktek Lapang saya, dan Beliau sang
inisiator ide demi sebuah peradaban yang lebih baik.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar