Senin, Juli 25, 2011

Sang Pahlawan dari Banjarnegara






Sebuah Kisah Sejarah Salak Banjarnegara
Siang hari yang panas,tepatnya jam 12.45 motor yang saya tumpangi dengan teman saya menuju sebuah rumah di bagian atas Madukoro. Disana tinggal pasangan kakek nenek yang sudah memiliki cucu berwisuda (sudah cukup tua kan…). Dialah kakek Edi dengan istrinya.
Kita memang belum kenal, tapi kek Edi dengan ramah menyambut kami, muka berseri dengan senyuman indah daari lesung pipinya membuat senang untuk bertamu buat kami. Itulah sapaan terindah untuk seorang tamu…
Diawali dengan niatan datangnya saya dan teman saya ke desa Banjarnegara yakni mempelajari pasca panen buah Salak, beliau justru langsung bercerita panjang tentang sejarah salak di Banjarnegara.
Jadi Gini ringkas ceritanya….
Sejarah salak di Banjarnegara dimulai dengan tanaman lokal salak asli Banjarnegara dengan karakteristik buah yang memiliki rasa agak kecut, fisik tidak terlalu bagus apabila dibandingkan dengan salak saat ini. Penanaman salak local dimuali pada sekitar tahun 1974.
Hingga akhirnya sekitar tahun 1988, ada seorang pemuda daerah yang memiliki jiwa untuk terus berkembang dengan visi pertanian dihatinya. Memang pada awal idenya muncul semenjak beliau mengikuti Expo produk Pertanian Jawa Tengah di Hotel Borobudur, Magelang. Disana beliau bertemu dengan seorang dosen dari Universitas ternama di Yogyakarta. Olehnya Beliau diajak untuk berkunjung ke sentra Salak, Sleman. Beliau diajak untuk bertemu dengan Kepala desa setempat untuk melihat-lihat perkebunan salak dan produk Salak, dan pada saat itu beliau belum terinspirasi sama sekali dengan ide salak pondoh.
Selepas kepulangan dari Expo pertanian, beliau kembali ke desanya dan lebih sering mendapat kunjungan dari beberapa pihak terkait pembibitan salak Banjarnegara, mulai dari kalangan pemerintah, akademisi ataupun warga setempat. Melihat fenomena yang demikian, Edi memiliki perasaaan gundah,kalo keadaan terus demikian apa jadinya….akhirnya beliau mencoba mengajak 1 kelompok tani di sekitar rumahnya untuk berkunjung ke daerah Sleman, studi mengenai penanaman, pembibitan serta berbagai hal tentang salak pondoh, Sleman. Kepulangan dari sana beliau membawa 100 batang pohn salak untuk ditanam di sekitar desanya. Berawal dari sinilah salak pondok di tanam di Banjarnegara.
Tak semudah yang dibayangkan untuk mulai merealisasikan rencana beliau, karena beliau harus mendapat tekanan dari berbagai pihak terutama dari pemerintah, dalam hal ini bupati Banjarnegara. Namun dengan gigihnya beliau bisa mengganti salak local dengan salak pondoh di daerah ini sejalannya dengan waktu. Faktor utama yang menyeabbkan yakni hasil panen salak pondoh lebih diterima oleh pasar karena rasanya yang lebih manis.


Madukoro, Banjarnegara @ 7.10 pm
By.  Nurul   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogroll