Sebuah Kisah Sejarah Salak Banjarnegara
Siang hari yang
panas,tepatnya jam 12.45 motor yang saya tumpangi dengan teman saya menuju
sebuah rumah di bagian atas Madukoro. Disana tinggal pasangan kakek nenek yang
sudah memiliki cucu berwisuda (sudah
cukup tua kan…). Dialah kakek Edi dengan istrinya.
Kita memang
belum kenal, tapi kek Edi dengan ramah menyambut kami, muka berseri dengan
senyuman indah daari lesung pipinya membuat senang untuk bertamu buat kami.
Itulah sapaan terindah untuk seorang tamu…
Diawali dengan
niatan datangnya saya dan teman saya ke desa Banjarnegara yakni mempelajari
pasca panen buah Salak, beliau justru langsung bercerita panjang tentang
sejarah salak di Banjarnegara.
Jadi Gini
ringkas ceritanya….
Sejarah salak di
Banjarnegara dimulai dengan tanaman lokal salak asli Banjarnegara dengan
karakteristik buah yang memiliki rasa agak kecut, fisik tidak terlalu bagus
apabila dibandingkan dengan salak saat ini. Penanaman salak local dimuali pada
sekitar tahun 1974.
Hingga akhirnya sekitar
tahun 1988, ada seorang pemuda daerah yang memiliki jiwa untuk terus berkembang
dengan visi pertanian dihatinya. Memang pada awal idenya muncul semenjak beliau
mengikuti Expo produk Pertanian Jawa Tengah di Hotel Borobudur, Magelang.
Disana beliau bertemu dengan seorang dosen dari Universitas ternama di
Yogyakarta. Olehnya Beliau diajak untuk berkunjung ke sentra Salak, Sleman.
Beliau diajak untuk bertemu dengan Kepala desa setempat untuk melihat-lihat
perkebunan salak dan produk Salak, dan pada saat itu beliau belum terinspirasi
sama sekali dengan ide salak pondoh.
Selepas
kepulangan dari Expo pertanian, beliau kembali ke desanya dan lebih sering
mendapat kunjungan dari beberapa pihak terkait pembibitan salak Banjarnegara,
mulai dari kalangan pemerintah, akademisi ataupun warga setempat. Melihat
fenomena yang demikian, Edi memiliki perasaaan gundah,kalo keadaan terus
demikian apa jadinya….akhirnya beliau mencoba mengajak 1 kelompok tani di
sekitar rumahnya untuk berkunjung ke daerah Sleman, studi mengenai penanaman,
pembibitan serta berbagai hal tentang salak pondoh, Sleman. Kepulangan dari
sana beliau membawa 100 batang pohn salak untuk ditanam di sekitar desanya.
Berawal dari sinilah salak pondok di tanam di Banjarnegara.
Tak semudah yang
dibayangkan untuk mulai merealisasikan rencana beliau, karena beliau harus
mendapat tekanan dari berbagai pihak terutama dari pemerintah, dalam hal ini
bupati Banjarnegara. Namun dengan gigihnya beliau bisa mengganti salak local
dengan salak pondoh di daerah ini sejalannya dengan waktu. Faktor utama yang
menyeabbkan yakni hasil panen salak pondoh lebih diterima oleh pasar karena
rasanya yang lebih manis.
Madukoro,
Banjarnegara @ 7.10 pm
By. Nurul



Tidak ada komentar:
Posting Komentar